Bookmark and Share

BERITA

LONGSOR PONOROGO 2017, dalam perspektif Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan

10 April 2017, 10:23:07 - Eko Produk - Hits : 1632 - Posted by Humas
LONGSOR PONOROGO 2017, dalam perspektif Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan

DESA BANARAN, KECAMATAN PULUNG, KABUPATEN PONOROGO

Gambaran Umum lokasi :
a)    Secara geografi Desa Banaran, Kecamatan Pulung terletak di lereng Gunung Wilis sebelah Barat pada titik koordinat : UTM 9131595, Pada Elevasi : 843 m dpl;
b)    Luas wilayah desa Banaran sebanyak 30.74 km2 dan memiliki Jumlah penduduk sebanyak 2.288 jiwa serta Jumlah rumah sebanyak 529 rumah.
c)    Mata pencarian penduduk yang dominan adalah petani dan perantau (TKI, TKW dan buruh migran);
d)    Secara keseluruhan tutupan vegetasi pada hutan rakyat didominasi oleh jenis tanaman pertanian/holtikultura (jahe, jagung, ketela pohon, sengon), sedangkan pada hutan produksi didominasi oleh tanaman pinus yang berada pada bagian atas hutan rakyat (bukan lokasi longsor);
e)    Pengolahan lahan pada lahan milik sangat intensif dan teraseringnya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi.
f)    Tingkat kemiringan lahan pada lokasi bencana sebesar >50 % (sangat curam)

g)    Deskripsi Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo sbb :

A.    Riwayat Bencana
1)    Sejak awal bulan maret 2017 dilokasi tersebut sudah timbul retakan tanah. Satu minggu sebelum kejadian bencana longsor hampir setiap hari turun hujan dengan intensitas yang cukup tinggi.
2)    Sejak tanggal 13 Maret 2017, Pemerintah Ponorogo telah merekomendasikan kepada seluruh warga yang bermukim dilokasi tersebut untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman;
3)    Kejadian bencana tanah longsor terjadi pada hari sabtu tanggal 1 April 2017 pukul 07.30 WIB, saat itu warga yang berada di lokasi pengungsian pulang kerumah untuk membersihkan rumah, memberi makan ternak dan memanen hasil perkebunan seperti jagung dan jahe;

B.    Dampak Bencana
1)    Tebing setinggi 800 meter longsor dan menimpa 28 (dua puluh delapan) rumah warga, tepatnya 4 RT di dukuh Tanggkil sebanyak 21 rumah dan Krajan sebanyak 7 rumah; data terakhir jumlah orang yang tertimbun longsoran tanah sebanyak 28 orang
2)    Luasan terdampak sebesar ±15 hektar (2 ha kawasan hutan produksi dan 13 ha lahan milik masyarakat), longsoran tanah menimbun areal permukiman dan persawahan sepanjang 800 meter dan tertutupnya CEK DAM, aliran sungai gunung wilis serta 3 (tiga) sumber mata air lereng wilis;
3)    Data sementara korban manusia sebanyak 28 orang, sudah berhasil dievakuasi sebanyak 2 orang dan 26 orang masih proses dalam proses evakuasi.  (data : Hari Minggu, 2 April 2017 Jam 11.00 wib).
 
2. Analisis Ekologis dan Strategi Pengendalian :
a.    Analisis Ekologis
Desa Banaran merupakan wilayah dengan Jasa Ekosistem Pengaturan dan Perlindungn dan Pencegahan Bencana dalam Kelas Sedang yang berarti lahan tersebut sangat berpotensi terhadap kejadian bencana apabila dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi dan peruntukannya untuk tanaman semusim. Oleh karena itu jenis tanaman pengendali yang cocok adalah tanaman keras yang mempunyai fungsi penguat struktur tanah dan penahan laju aliran air (runnof).

Bentang lahan desa Banaran merupakan bagian dari kaki gunung Liman Dorowati material Piroklastik. Kandungan material atau batuan utama penyusun berupa bahan-bahan yang berasal dari piroklastik berupa material pelapukan yang gembur bersifat lepas dan gampang jenuh air. Bentang lahan dengan jenis tersebut diatas, permasalahan yang muncul adalah menjadi daerah rawan bencana.  

Disamping itu, dengan kondisi tingkat kemiringan lahan >50% tidak direkomendasikan untuk permukiman dan pertanian karena sangat rawan terhadap bencana (longsor) dan laju aliran air permukaan (run off) menjadi tidak terkendali.

Dilihat dari perspektif daya dukung dan daya tampung lingkungan berbasis jasa ekosistem, maka karakteristik bentang lahan Desa Banaran merupakan ekoregion dengan tingkat jasa ekosistem Sedang.

b.    Strategi Pengelolaan Daerah Bencana Desa Banaran, Kecamatan Pulung
Mengingat karakteristik ekoregion (bentang alam dan penutup lahan), kemiringan lahan serta menghindarkan bencana longsor yang berkelanjutan, maka strategi yang perlu dilakukan antara lain :
1)    Revitalisasi pengelolaan Kawasan Lindung (penaatan RTRW);
2)    Pengembangan Kawasan Wisata Alam Pegunungan dengan keaneka-ragaman hayatainya, Kawasan Budidaya Perkebunan, Tanaman Tahunan, dan Perikanan Darat;
3)    Pengembangan dan pelatihan alih profesi mata pencaharian baru (ekonomi kreatif);
4)    Pembuatan gully plug dan pemilihan jenis tanaman keras yang mempunyai fungsi lindung sesuai dengan tingkat kemiringan lahan;
5)    Penyusunan Peta Rawan Bencana Kabupaten Ponorogo
6)    Relokasi permukiman di sekitar lokasi bencana ke daerah yang lebih aman, berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
7)    Kabupaten Ponorogo segera menghitung dan menetapkan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup sebagai bahan pertimbangan perencanaan pembangunan (KLHS, RPPLH, RTRW) dalam RPJMD Kabupaten Ponorogo. (SW)

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Dr. Drs. Sugeng Priyanto, M.Si, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3E Jawa). Tlp. 0274-620702, e-mail : p3ejawa@menlhk.go.id


Banner
  • #AkuKamuKitaSemuaPeduliLingkungan
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : forum.ppejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.