Bookmark and Share

BERITA

BUMDes Kelola SDA LH Kawasan Karst Gunungsewu sesuai Karakteristik Jasa Lingkungan Satuan Ekeregion

25 Desember 2019, 02:13:53 - Berita - Hits : 601 - Posted by admin

“Lahan Kritis Bekas Tambang Karst dikelola menjadi Pasar Ekologis sejak 2017”

 

Yogyakarta, Kawasan Karst Gunungsewu merupakan bagian dari satuan ekoregion Karst Jawa (K1) Jalur Pangandaran - Karangbolong - Gunungsewu – Blambangan. Kawasan Karst Gunungsewu membentang mulai dari Kabupaten Gunungkidul di D.I. Yogyakarta, Wonogiri di Provinsi Jawa Tengah hingga Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur.

 

P3E Jawa mencatat dalam buku profil ekoregion jawa bahwa satuan ekoregion karst jawa memiliki kerawanan lingkungan antara lain (1) Rentan terhadap aktivitas penambangan batugamping secara liar/tanpa ijin, (2)  alih fungsi lahan dan konflik kepemilikan lahan, (3) pencemaran air akibat pemanfaatan telaga untuk kebutuhan domestik atau akibat pola pengelolaan lahan-lahan marginal sebagai lahan pertanian dengan pemupukan berupa pupuk kandang. (4) kualitas air yang relatif rendah secara alami akibat kandungan karbonat hasil pelarutan batugamping yang intensif, (5) erosi lereng yang menghasilkan sedimen sangat tinggi dan menyebabkan pendangkalan telaga secara intensif.  

 

Desa Gari Kecamatan Wonosari merupakan kawasan karst gunungsewu yang secara geomorfologi merupakan dataran karst yang terbentuk dari batuan karbonat, dan secara hidrogeologis membentuk sistem akuifer (lapisan pembawa air) dengan kuantitas air tanah cukup tinggi, Sejak tahun 1976 Gunung Wijil di Desa Gari tersebut ditambang oleh masyarakat sekitar untuk bahan material membangun mushola, lalu berkembang sebagai lahan mata pencaharian masyarakat.

 

Setelah tidak ada aktifitas penambangan dilokasi tersebut, maka lokasi tersebut masuk dalam kategori lahan kritis. Pada tanggal 18 April 2017, Menteri LHK melalui program pemulihan kerusakan lahan bekas tambang rakyat (batu gamping) meresmikan lokasi tersebut menjadi pasar ekologis. Pasar ini diberi nama  Pasar Ekologis “Argo Wijil”, pasar ini berdiri diatas lahan 7.000 M2 di Desa Gari Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul.

 

Pada buku profil ekoregion jawa juga mengisyaratkan bahwa karakteristik/kondisi kultural masyarakt pada kawasan karst jawa antara lain kondisi sosial ekonomi yang rentan terhadap kemiskinan (pendapatan perkapita rendah), struktur kependudukan tua dan muda sehingga kekurangan tenaga kerja produktif akibat usia produktif melakukan migrasi ke kota-kota besar. Untuk itu, konsep pasar yang dikembangkan adalah Pasar Ramah Lingkungan yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan ke dalam pasar tradisional.

 

Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, mengamanatkan bahwa pemerintah desa saat ini memiliki kewenangan pengelolaan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan. Secara garis besar kawasan ini dapat dikembangkan lebih banyak dengan melihat arahan pengelolaan pada kawasan karst gunungsewu mempertimbangkan/merujuk pada jasa lingkungan/ekosistem, yaitu: (1) jasa ekosistem penyediaan bahan dasar industri (kalsit) dan air yaitu potensi sungai bawah tanah, (2) jasa ekosistem pengaturan tata air dan biologis (konservasi hayati) dan siklus karbon, (3) jasa ekosiustem budaya yaitu pengembangan wisata alam minat khusus, dan budaya kehidupan sejarah dalam guagua karst, dan (4) jasa ekosistem pendukung berupa pengembangan wisata alam minat khusus, dan budaya kehidupan sejarah dalam gua-gua karst.

  

Hal inipun sudah sejalan dengan Perda RTRW Gunungkidul nomor 6 trahun 2011, yaitu untuk rentang waktu tahun 2010 s.d 2030 mengisyaratkan cukup jelas bahwa Kecamatan Wonosari sebagai salah satu kecamatan yang memiliki fungsi lindung hidrologi dan ekologi sebagai kawasan karst dan menjadi bagian dari kawasan perbukitan karst Gunungsewu.   

 

Untuk itu, BUMDes “Mardi Gemi” yang dibentuk oleh Pemerintah Desa Gari untuk mendayagunakan segala potensi ekonomi, kelembagaan perekonomian, serta potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Dengan memperhatikan jasa lingkungan/ekosistem tersebut BUMDes masih dapat menciptakan peluang usaha yang sesuai dengan karakteristik dan keunikan Desa Gari,   mengembangkan pasar maupun melakukan kerjasama dengan para pihak dan lain sebagainya.

Setidaknya, pengembangan BUMDes mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa, antara lain dengan mengacu pada Permendagri 114 tahun 2014 di dalam RPJMDes juga menuangkan perencanaan pengembangan/pembangunan potensi desa maupun rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup desa.

 

Dengan demikian, Pasar Ekologis Argo Wijil dapat memberikan dampak multiplier effect. Artinya, Pasar ini tidak hanya memiliki kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi di desa tetapi juga dalam upaya restorasi kelestarian lingkungan. (GSW)


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.