Bookmark and Share

BERITA

Arahan Perencanaan Pesisir Jawa sesuai Satuan Ekoregion

24 Desember 2019, 13:03:44 - Berita - Hits : 179 - Posted by admin

Sebanyak 140 juta penduduk (60%) Indonesia tinggal di wilayah pesisir, 80% di antaranya bergantung pada pemanfaatan sumber daya perikanan.

Wilayah pesisir juga menghadapi banyak permasalahan, degradasi ekosistem dan sumberdaya alam diantaranya berupa kerusakan terumbu karang (42% rusak berat, 29% rusak, 23% baik dan hanya 6% sangat baik), kerusakan hutan mangrove (40% dari luas total kawasan mangrove), serta berkurangnya stok sumberdaya ikan. Permasalahan wilayah pesisir lainnya adalah masalah sosial, terutama kemiskinan, yang diperkirakan terdapat 80% masyarakat pesisir relative miskin dengan tingkat pendidikan rendah. (sumber : P3E Jawa, 2013)

 

Kelas Ekoregion Dataran Pantai Jawa meliputi hampir di seluruh wilayah pesisir bagian utara dan selatan Pulau Jawa, dengan luas mencapai 244.566,66 Ha. Kondisi Klimatologi relatif beriklim basah dengan variasi curah hujan mulai rendah hingga tinggi. Umumnya di seluruh Pantai Utara Jawa mempunyai curah hujan tinggi, sedangkan di Pantai Selatan relatif bervariasi, dengan curah hujan tinggi di Jawa Barat dan semakin ke timur semakin rendah. Material penyusun juga bervariasi. Secara umum di Pantai Utara Jawa tersusun atas material alluvium lempungan, dengan beberapa lokasi tersusun atas batuan beku vulkanik, seperti di pantai barat dan utara Provinsi Banten, pantai utara dan timur Gunungapi Muria di Kabupaten Pati dan Gunungapi Lasem di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah, sebagian pantai utara Kabupaten Situbondo (Gunungapi Argopuro), dan pantai timur Kabupaten Banyuwangi (Gunungapi Baluran) Provinsi Jawa Timur.

 

Secara umum di Pantai Selatan Jawa tersusun atas batuan sedimen, baik berupa sedimen lepas (pasir) maupun sedimen organik (batugamping terumbu), dan batuan beku vulkanik. Di Provinsi Jawa Barat didominasi batuan sedimen lepas (pasir vulkanis) dan batuan beku; di Provinsi Jawa Tengah didominasi batuan sedimen lepas (pasir vulkanis); di Provinsi D.I. Yogyakarta tersusun atas sedimen lepas (pasir vulkanis) di Kabupaten Kulonprogo dan Bantul, sedangkan di Kabupaten Gunungkidul tersusun atas batuan sedimen organik (batugamping) dan pasir terumbu; dan di Provinsi Jawa Timur mempunyai sebaran hamper merata untuk batuan sedimen organik (batu gamping), pasir vulkanis, dan batuam beku (aliran lava Gunungapi Wilis, Semeru, dan Raung). Potensi mineral yang mungkin dijumpai berupa pasir marin vulkanis berwarna hitam yang mengandung pasir besi, dan pasir terumbu berwarna putih.

 

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 0-3%, pada beberapa lokasi agak miring (3-8%). Pada Pantai Utara Jawa, terbentuk oleh proses pengendapan marin (gelombang) yang berkerja sama dengan aliran sungai (fluvial) yang bermuara ke laut (Pantai Utara Jawa pada umumnya), sehingga dapat disebut sebagai pesisir yang terbentuk akibat pengendapan material daratan oleh sungai (sub aerial deposition coast). Ciri dari proses ini adalah pola saluran sungai yang berkelok-kelok (meandering) dan di bagian muara sungai dapat membentuk cabang-cabangan lagi, yang disebut berpola creak. Sedang pada Pantai Selatan Jawa, terjadi kerjasama antara aktivitas gelombang dengan angin (eolian), seperti di Pantai Cilacap (Jawa Tengah) hingga Pantai Bantul (D.I. Yogyakarta); atau murni akibat aktivitas pengendapan oleh gelombang (Pantai Selatan Jawa pada umumnya), yang membentuk kompleks bentuklahan gisik pantai, beting gisik, dan gumuk pasir.

 

Di Pantai Utara Jawa, kondisi hidrologi dikontrol oleh aliran sungai-sungai dengan debit aliran dan beban sedimen yang tinggi, khususnya pada musim penghujan, dan kondisi airtanah pada umumnya berasa payau hingga asin, yang hampir merata di seluruh satuan dataran pantai yang berlumpur (endapan aluvium). Kondisi hidrologi seperti ini merupakan faktor penyebab bahaya banjir fluvial (saat musim hujan) dan banjir rob (saat musim kemarau), sedangkan di Pantai Selatan Jawa, kondisi hidrologi lebih bervariasi. Pada pantai berpasir vulkanis, dikontrol oleh aktivitas aliran sungai dan input air hujan, yang membentuk akuifer lokal dengan kandungan airtanah tawar yang potensial, seperti di Pantai Cilacap hingga Bantul, dan beberapa pantai berpasir vulkanis lain secara lokal-lokal. Pada pantai berpasir terumbu, kondisi hidrologi dikontrol oleh input air hujan saja, membentuk akuifer lokal dengan potensi airtanah tawar yang relatif rendah. Pada pantai berbatuan beku relatif miskin air (potensi sangat rendah). Pada pantai berbatuan batugamping (karst), kondisi hidrologi dikontrol oleh aliran sungai bawah tanah dan mataair karst, yang sangat bergantung pada kondisi pemanfaatan lahan dan daerah tangkapan hujan di bagian hulunya.

Di Pantai Selatan Jawa, khususnya pada pantai berpasir (pasir vulkanis dan pasir terumbu), sangat rentan terhadap intrusi air laut, apabila pengambilan airtanah melebihi kemampuan daya simpan akuifernya.

 

Kerawanan Lingkungan Pantai Utara Jawa Lingkungan relatif rentan terhadap pencemaran perairan sungai akibat limbah domestik (perkotaan) dan industri, sedangkan saat kemarau menjadi kering mutlak dan retakretak, drainase permukaan buruk, dan mudah menjebak pencemar, sehingga menyebabkan lingkungan kumuh dan kotor, yang pada akhirnya menimbulkan wabah penyakit, seperti: malaria, penyakit saluran pencernakan, penyakit kulit, dan ISPA saat kemarau.

 

Pantai Selatan Jawa Kedudukan pantai selatan Jawa yang berhadapan dengan zona penunjaman samudra (subduction zone, mempunyai ancaman kerawanan bahaya gempabumi dan tsunami. Intrusi air laut; rentan terhadap pencemaran akibat pemanfaatan lahan di atasnya; konflik kepentingan antara fungsi pertanian dan pertambangan.

 

Kondisi Jasa Ekosistem di wilayah pesisir jawa  

  1. 1.     Penyediaan

Pantura: pengembangan lahan tambak bandeng, udang, dan garam, 

Pansela: pengembangan lahan pertanian semusim dan pariwisata

  1. 2.     Pengaturan :

Pantura: penyerapan karbon, pemelihara siklus air, dan keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan Mangrove,

Pansela: pemelihara keseimbangan airtanah dan air laut, dan fungsi peredam gelombang tsunami

  1. 3.     Budaya :

Pantura: pengembangan pendidikan dan estetika lingkungan

Pansela: pengembangan wisata, spiritual, dam pendidikan

  1. 4.     Pendukung

Pantura: perlindungan plasma nutfah dan habitat mangrove

Pansela: perlindungan ekosistem lahan kering pantai berpasir

 

Berdasarkan kondisi kerawanan dan karakteristik tersebut, maka pengelolaan SDA LH pada satuan ekoregion pesisir pulau jawa sebaiknya dibagi dalam 2 model, yaitu pengelolaan berbasis pada instrument pengendalian dan pengawasan untuk pantai utara, sedangkan untuk pengelolaan pesisir selatan jawa yang didominasi kehidupan nelayan dan bercocok tanam, maka pengelolaanya berbasis pada perlindungan dan pemelihaaraan.(GSW)


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.