Bookmark and Share

BERITA

MENGENAL STATUS dan ARAHAN PENGELOLAAN JASA LINGKUNGAN DAS CIMANUK

23 Desember 2019, 03:41:35 - Berita - Hits : 127 - Posted by admin

Berdasarkan data yang tersedia di P3E Jawa, pada tahun 2013 lalu kondisi IKLH DAS  Cimanuk adalah 46,28 atau kategori sedang dengan kepadatan pebduduk pada saat itu 8,42 jiwa/ha  dan status kekritisan airnya adalah keadaan kritis atau dengan angka 27,3 serta keamanan kehatinya adalah 48,73%

DAS Cimanuk memiliki panjang 337,67 km merupakan sungai terpanjang kedua di Jawa Barat yang mampu menyediakan 2,2 miliar m3 air per tahun, yang sebagian besar di digunakan untuk irigasi lahan pertanian. DAS Cimanuk terbentang dari 9 Kabupaten yakni Bandung, Ciamis, Cirebon, Garut, Indramayu, Kuningan, Majalengka, Sumedang dan Tasikmalaya.

DAS Cimanuk berbatasan dengan Laut Jawa di bagian utara, DAS Ciwulan dan DAS Cikandang bagian selatan, DAS Citanduy dan DAS Cisanggarung di sebelah timur dan DAS Citarum di sebelah baratnya.DAS Cimanuk merupakan penopang utama sumberdaya air di Jawa Barat (Gambar 3.21.). Luas DAS Cimanuk 374.153 ha.

DAS Cimanuk terdiri dari 8 satuan ekoregion yaitu Dataran Fluvial Jawa, Dataran Organik/Koral Jawa, Dataran Pantai Utara Jawa, Dataran Vulkanik Jalur Gunung Karang - Merapi – Raung, Pegunungan Struktural Blok Selatan Jawa, Pegunungan Vulkanik Jalur Gunung Karang - Merapi – Raung, Perbukitan Struktural Jalur Bogor - Kendeng – Rembang dan Perbukitan Vulkanik Jalur Gunung Karang - Merapi – Raung.

 

NAMA

 

 

KODE

 

 

LUAS (ha)

 

 

(%)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dataran Fluvial Jawa

 

F

60.221

16,10%

 

 

 

Dataran Organik/Koral Jawa

 

O2

18

0,00%

 

 

 

Dataran Pantai Utara Jawa

 

M1

9.713

2,60%

 

 

 

Dataran Vulkanik Jalur Gunung Karang - Merapi - Raung

 

V3

51.016

13,64%

 

 

 

Pegunungan Struktural Blok Selatan Jawa

 

S11

3.334

0,89%

 

 

 

Pegunungan Vulkanik Jalur Gunung Karang - Merapi - Raung

 

V1

89.324

23,87%

 

 

 

Perbukitan Struktural Jalur Bogor - Kendeng - Rembang

 

S22

62.109

16,60%

 

 

 

Perbukitan Vulkanik Jalur Gunung Karang - Merapi - Raung

 

V2

98.418

26,30%

 

 

 

Degradasi kualitas lingkungan DAS Cimanuk ditengarai dengan tingginya prosentasi lahan kritis (di dalam maupun diluar kawasan hutan) sehinga laju erosi lahan dan sedimentasi disungai meningkat, yang selanjutnya akan mempercepat sedimentasi di danau, waduk dan saluran-saluran irigasi.

Secara umum, permasalahan lingkungan yang terjadi di DAS Cimanuk berupa:

  1. Salah satu indikator yang menjadikan DAS Cimanuk sebagai DAS yang paling kritis adalah fluktuasi debit pada saat musim kemarau dan musim hujan. Fluktuasi debit pada saat musim kemarau dan musim hujan
    1. Kekeringan sering terjadi di pantura Ciayu pada musim kemarau yang mengancam lahan pertanian. Disisi lain, banjir mengancam lahan pertanian dan perekonomian daerah pada saat musim hujan. Bencana kekeringan pada musim kemarau selalu melanda daerah Pantura Cirebon – Indramayu. Di Kabupaten Indramayu terdapat 13 lokasi rawan banjir seluas 8.834 ha yang perlu mendapat perhatian dan penanganan lebih lanjut. Sedang lokasi kritis sungai-sungai di wilayah Indramayu mencapai 30 tempat. Di daerah hilir terutama di musim hujan S. Cimanuk sering meluap dan menggenangi lahan persawahan.

 

  1. Neraca air pada periode bulan Januari - Oktober 2013 berdasarkan data menunjukkan neraca air maksimum tertinggi terjadi pada bulan Maret dengan nilai 523,93 dan neraca air minimum terendah terjadi pada bulan Oktober dengan nilai 17,36. Nilai Q rata-rata tertinggi pada bulan Januari yaitu 330,93 dan Q rata-rata minimum terendah pada bulan September yaitu 46,17.

 

  1. Daerah Tangkapan air sepanjang DAS Cimanuk banyak terdapat lahan kritis, disertai peningkatan erosi lahan. Kerusakan dan lahan kritis pada daerah aliran sungai atau DAS Cimanuk, yang melintas dari Kabupaten Garut hingga Indramayu, ternyata relatif parah.

 

  1. Berdasarkan data BPDAS Cimanuk Citanduy terkait dengan perubahan tutupan lahan dianggap menjadi salah satu permasalahan yang benimbuklan dampak yang sangat besar terhadap kerusakan lingkungan. Gambar perubahan tutupan lahan tahun 1999, 2005 dan 2011
    1. Data BPDAS Cimanuk Citanduy Menunjukkan bahwa kondisi lahan sangat kritis seluas 1.137,20 Ha dan luas lahan kritis seluas 13.532,20 Ha yang seluruhnya menjadi prioritas untuk perbaikan tutupan vegetasi. Sedangkan data tahun 2013 menunjukkan perluasan lahan kritis yaitu luasan lahan sangat kritis 1.966,39 Ha, luas lahan kritis 14.854,88 Ha. Namun terjadi penurunan luas lahan agak kritis yaitu 77.250 ha. Beberapa program dan kegiatan terkait rehabilitasi hutan dan lahan yang telah dilakukan pada DAS Cimanuk berupa;

reboisasi kawasan konservasi, rehabilitasi kawasan fungsi lindung, rehabilitasi hutan dan lahan melalui kebun bibit rakyat, rehabilitasi lahan melalui pembangunan hutan kota, rehabilitasi mangrove dan hutan pantai, pengembangan hutan kemitraan, pembangunan infrastruktur untuk konservasi tanah dan air.

 

  1. Erosi di DAS Cimanuk menimbulkan sedimentasi di Sungai Cimanuk. Erosi banyak terjadi di bagian hulu sungai dan sedimentasi terjadi di bagian tengah maupun hilir sungai. Data BPDAS Cimanuk Citanduy menujukkan bahwa tingginya tingkat erosi pada DAS Cimanuk disebabkan akibat penggunaan lahan di wilayah hulu tidak sesuai dengan kaidah konservasi tanah. Juga akibat kawasan lindung yang dijadikan pertanian intensif. Selain erosi praktek ini juga menyebabkan sedimentasi dan banjir.

 

  1. Kajian kebutuhan komposting untuk timbulan sampah 2,5 L/orang/hari dengan komposisi 60% sampah organik, pada segmen Majalengka diperlukan 164 unit, Garut 112 unit, Indramayu 21 unit, Sumedang 24 unit

 

  1. Kualitas air di DAS Cimanuk dapat dikategorikan buruk karena hal-hal sebagai berikut:

 

a)   Hampir semua sungai membawa zat padat terlarut dalam alirannya, dengan kadar yang tinggi, sebagai indikasi adanya erosi lahan di DAS.

 

b)   Parameter COD dan BOD melebihi baku mutu yang disyaratkan.

 

c)    Parameter Phosfat (PO4) dan Chlorida (Cl) melebihi baku mutu yang disyaratkan, kemungkinan dari limbah pertanian dan perkebunan.

d)   Hampir seluruh aliran sungai tercemar sulfat (SO4), sulfida (H2S), besi (Fe), mangaan (Mn) dan seng (Zn) secara berlebihan.

Data BPLHD Jabar menunjukkan bahwa status mutu air rata-rata DAS Cimanuk pada tahun 2012 berdasarkan hasil evaluasi dengan menggunakan metode Storet berdasarkan BMA PP nomor 82 tahun 2001 pada kelas II menunjukkan bahwa seluruh lokasi tercemar berat. Segmentasi DAS Cimanuk terdiri segmen 1 yaitu bagian hulu meliputi kabupaten Garut, segmen 2 di kabupaten Sumedang, segmen 3 kabupaten Majalengka, segmen 4 atau bagian hilir di kabupaten Indramayu. Berdasarkan Pergub Jabar Nomor 12 tahun 2013 BMA DAS Cimanuk ditetapkan bahwa segmen 1 sampai segmen 3 ditetapkan sebagai klas II dan segmen 4 ditetapkan sebagai klas 3. Kondisi BMA DAS Cimanuk saat ini segmen 1 sampai segmen 4 adalah cemar berat atau masuk klas IV. Sedangkan telah ditetapkan mutu air sasaran DAS Cimanuk untuk segmen 1 dan 2 adalah klas II serta segmen 3 dan 4 adalah klas III.

Berdasarkan hasil uji kualitas Air pada beberapa segmen, terdapat beberapa parameter yang melebihi baku mutu berdasar BMA PP 82/2001 yaitu BOD, COD, Nitrat, Sulfida, Koli Tinja dan Koli Total di lokasi Boyongbong, Sukaregang, Wado, Tomo, Jatibarang. Upaya mitigasi yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas air DAS Cimanuk akibat limbah domestik antara lain melalui intervensi pembangunan IPAL komunal dan komposting. Kajian terhadap kebutuhan IPAL untuk skala 250 orang atau 50 KK masing-masing 5 jiwa pada segmen Majalengka diperlukan 230 unit, segmen Garut 405 unit, Indramayu 120 unit, Sumedang 144 unit.

Kerawanan lingkungan yang dominan adalah Ancaman bencana alam dapat berupa daerah ancaman aliran lahar dan hujan abu vulkanik (bahaya sekunder) ketika gunungapi meletus. Secara alami pada daerah ini kemungkinan sangat kecil untuk terpengaruh oleh perubahan iklim global. Lingkungan secara sosial rentan terhadap eksploitasi bahan galian pasir dan batu (di lembah sungai maupun pekarangan).

Untuk meningkatkan kualitas lingkungan DAS, maka perlu dilakukan adalah Prioritas pada upaya peningkatan tutupan vegetasi dan menyelesaikan masalah pemanfaatan lahan pada kawasan konservasi dan hutan lindung yang banyak digunakan sebagai lahan budidaya.

Adapun arahan pembangunanya berdasarkan jasa ekosistem yang paling dominan  meliputi

  1. Jasa penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya.
  2. Jasa pengaturan istem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah.
  3. Jasa pendukung Perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah. (gsw)

Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.