Bookmark and Share

BERITA

MENGENAL STATUS dan ARAHAN PENGELOLAAN JASA LINGKUNGAN DAS CILIWUNG

23 Desember 2019, 03:27:33 - Berita - Hits : 154 - Posted by admin

Berdasarkan data yang tersedia di P3E Jawa, pada tahun 2013 lalu kondisi IKLH DAS  Ciliwung adalah 42,56 atau kategori sedang dengan kepadatan pebduduk pada saat itu 12,07 jiwa/ha  dan status kekritisan airnya adalah telah kritis atau dengan angka 4,77 serta keamanan kehatinya adalah 79,20%

DAS Ciliwung merupakan salah satu pemasok air yang penting bagi DKI Jakarta. Disisi lain, apabila DAS Ciliwung meluap dampak yang ditimbulkannya akan langsung mengenai jantung Ibukota dan pusat-pusat ekonomi yang penting di DKI Jakarta.Luas areal DAS Ciliwung sebesar 44.007 Ha. Panjang sungai utamanya adalah kurang lebih 117 km.DAS Ciliwung berbatasan dengan:

a.

Bagian barat

: berbatasan dengan DAS Angke dan DAS Krukut

b.

Bagian selatan

: berbatasan dengan DAS Citarum dan DAS Citarik

c.

Bagian timur

: berbatasan dengan DAS Bekasi dan DAS Sunter

d.

Bagian utara

: berbatasasn dengan Laut Jawa

Berdasarkan wilayah administrasi, DAS Ciliwung mencakup dalam 2 provinsi yang terdiri dari 10 kota/kabupaten.

DAS Ciliwung terdiri dari 4 satuan ekoregion yaitu Dataran Fluvial Jawa, Dataran vulkanik jalur Gunung Karang-Merapi-Raung, Perbukitan vulkanik jalur Gunung Karang-Merapi-Raung, dan Pegunungan vulkanik jalur Gunung Karang-Merapi-Raung. Sebaran satuan ekoregion dalam DAS Ciliwung dapat dilihat pada Gambar peta ekoregion DAS Ciliwung.

 

NAMA

 

 

KODE

 

 

LUAS (ha)

 

 

(%)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dataran Fluvial Jawa

 

F

8.494

 

19,30%

 

 

 

Dataran Vulkanik

 

V3

14.492

 

32,93%

 

 

 

Jalur Gunung Karang - Merapi - Raung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pegunungan Vulkanik

 

V1

8.735

 

19,85%

 

 

 

Jalur Gunung Karang - Merapi - Raung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbukitan Vulkanik

 

V2

12.284

 

27,92%

 

 

 

Jalur Gunung Karang - Merapi - Raung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan paparan BPLHD Prov. Jawa Barat permasalahan yang terdapat di DAS Ciliwung lebih disebabkan oleh adanya perubahan tata guna lahan sehingga menimbulkan degradasi DAS. Dampak dari adanya degradasi lahan terlihat pada menurunnya debit mata air, berkurangnya jumlah dan fungsi situ.

Permasalahan lain diangkat oleh BPLHD Prov. Jawa Barat di dalam DAS Ciliwung adalah adanya ketidaktaatan industri pada pengelolaan limbah B3 yang tidak sesuai.

Hasil analisa permasalahan di DAS Ciliwung sebagaian besar dalam kondisi rusak dengan ditandai seringnya terjadi bencana alam banjir, longsor dan kekeringan sebagai konsekwensi dari penurunan kualitas lingkungan sehingga menyebabkan kerugian yang sangat luas bagi kepentingan hidup manusia baik yang hidup di daerah hulu maupun hilir DAS.

Kejadian banjir yang diartikan sebagai luapan air hujan dari penampungan merupakan fenomena alam sebagai akibat hujan tidak tertampung oleh tanah dan penampungan permukaan baik dalam bentuk kolam, danau/situ, badan sungai dan saluran drainase. Faktor yang berpengaruh terhadap fenomena alam banjir ini dapat dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu faktor bentukan alam, yang dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi lokal tetapi juga kondisi global (iklim, pasang surut muka laut, morfologi) dan faktor bentukan manusia (penggunaan lahan, saluran drainase buatan).

Permasalahan yang terjadi di DAS Ciliwung tidak hanya mengenai banjir tetapi juga kualitas air yang kurang baik. Hasil laporan tahun 2010 mengenai kualitas air sungai yang dilakukan oleh Badan pengelola lingkungan hidup daerah Provinsi DKI Jakarta secara umum diperoleh bahwa kondisi air sungai di DKI Jakarta dari hulu menuju ke hilir telah buruk kualitasnya, baik itu kualitas fisik, kualitas kimia maupun kualitas biologi. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran di lapangan yang dilakukan oleh BPLHD Provinsi DKI Jakarta pada 13 sungai dengan pengambilan 45 titik pengambilah sempel yang meliputi; 3 peruntukan air baku air minum (golongan B), peruntukan perikanan dan peternakan (golongan C) serta peruntukan pertanian dan usaha perkotaan (golongan D). 13 sungai tersebut yaitu Sungai Ciliwung, Cipinang, Angke, Mookervart, Grogol, Sunter, Pesanggrahan, Krukut, Tarum Barat, Cengkareng, Kali Baru Timur, Buaran, Cakung Drain, Blencong, Petukangan dan Kamal.

Dalam menentukan beban pencemar, pengelola lingkungan hidup daerah Provinsi DKI Jakarta menggunakan parameter yang sesuai dengan SK Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 582 tahun 1995 tentang penetapan peruntukan dan baku mutu air sungai/ badan air serta baku mutu limbah cair di wilayah DKI Jakarta yang meliputi faktor fisik, kimia dan biologi. Parameter yang diukur meliputi; Parameter Fisik (DHL, TDS, TSS, Kekeruhan, DO, PH), Parameter Kimia (Hg, Fe, PB, Cl, NO3, SO4, BOD, COD, dll) dan Parameter Biologi (bakteri coli dan bakteri coli tinja). Dari seluruh parameter yang diukur, berdasarkan Indeks Pencemar Sungai, disimpulkan bahwa seluruh sungai di wilayah DAS Ciliwung (segmen hilir/Wilayah Jakarta) berada dalam kisaran Cemar Sedang hingga Cemar Berat. Data selengkapnya mengenai kualitas air sungai-sungai di DAS Ciliwung, dilaporkan secara lengkap dalam Laporan Tahun 2010 Peningkatan Kualitas Air Sungai Provinsi DKI Jakarta.

Kerawanan lingkungan yang terjadi adalah Alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman, pencemaran lingkungan, daerah ancaman aliran lahar dan hujan abu vulkanik. Lingkungan secara sosial rentan terhadap eksploitasi bahan galian pasir dan batu (di lembah sungai maupun pekarangan), rentan terhadap penyakit endemik, hama dan penyakit tanaman

Untuk meningkatkan IKLH, maka diperlukan langkah-langkah :

  1. Sangat mendesak untuk terus dilakukan upaya peningkatan kualitas air melalui berbagai bentuk kegiatan pengendalian pencemaran air. Penanganan limbah domestik menjadi prioritas untuk ditingkatkan.
  2. Perlu ditingkatkan upaya pemanenan air dengan menambah kawasan resapan air bervegetasi, membangun embung atau danau, membangun sumur-sumur resapan atau biopori.
  3. Perlu ditingkatkan pengamanan kawasan hutan untuk mempertahankan keberadaanya, mengingat kawasan ini sangat besar jumlah penduduknya.
  4. Untuk menambah tutupan vegetasi, perlu ditingkatkan kawasan hutan kota, mendayagunakan lahan-lahan nganggur, dan memperbaiki pemanfaatan lahan-lahan di sempadan sungai.

Sedasngkan arahan pembangunanya berdasarkan jasa ekosistem yang paling dominan meliputi

  1. Jasa penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya
  2. Jasa pengaturan sistem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah
  3. Jasa budaya Pengembangan budaya, agama, dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya
  4. Jasa pendukung Perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah. (gsw)

Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.