Bookmark and Share

BERITA

Rencana Aksi Pengembangan Bambu di Ekoregion Jawa dalam Perspektif Daya Dukung Lingkungan

22 Desember 2019, 21:20:30 - Berita - Hits : 149 - Posted by admin

Berawal dengan isu krisis energi menjadi masalah sangat serius di Pulau Jawa, selain masalah krisis air dan ketahanan pangan. Ketiga isu ini berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan manusia di muka bumi dan mempunyai korelasi yang signifikant dengan  ancaman perubahan iklim. Naiknya suhu rata-rata bumi akibat efek gas rumah kaca sebagai akibat pemakaian energi fosil (minyak bumi).

 Sebagaimana diketahui, kebutuhan energi Tahun 2025 diperkirakan akan naik menjadi 2,41 miliar SBM (Setara Barel Minyak) atau meningkat 84 persen dari total kebutuhan energi nasional pada tahun 2013 yang mencapai 1,31 miliar SBM (Setara Barel Minyak).

Pulau Jawa dengan luas kurang lebih 129.600,71 Km2 dan terbagi dalam 6 (enam) provinsi dan 119 Kab/Kota memiliki jumlah penduduk kurang lebih 136.975.600 jiwa. Dengan begitu, kebutuhan akan energi sangat tinggi dan cenderung boros energi yang pada gilirannya Jawa member kontribusi yang sangat tinggi terhadap perubahan iklim dari segi pemanfaatan atau kebutuhan akan energi fosil.

Mengingat Jawa dengan tingkat populasi penduduk yang tinggi membuhkan pasokan energi tak terbarukan seperti minyak dan batubara, maka tidak ada pilihan lain selain mengurangi ketergantungan pada energi yang berasal dari fosil untuk digantikan dengan Enenrgi Baru Terbarukan (EBT). Sebagaimana diketahui, target EBT tahun 2025 telah ditetapkan pemerintah sebesar 26 persen dari total kebutuhan energi nasional atau sebesar 626,6 juta SBM (tahun 2013 baru tercapai 6%).

Upaya untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil  (energi tak terbarukan) langkah awal yang perlu dilakukan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa  (P3E-Jawa) yaitu melakukan inventarisasi dan pemetaan terhadap jenis EBT yang yang tersebar di Pulau Jawa, Langkah selanjutnya, perlu dilakukan kajian dan studi mendalam jenis EBT apa saja yang punya kapasitas besar untuk dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan juga daya dukung lingkungannya. Untuk hal ini, P3E Jawa perlu bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, baik dengan perguruan tinggi, pelaku dunia usaha, LSM, dan masyarakat.

Dipandang perlu terciptanya EBT yang berbasis masyarakat.. Nagara hanya berperan sebagai fasilitator. Banyak praktik cerdas yang diprakarsai masyarakat untuk inovasi energi terbarukan, serta juga terdapat gerakan di masyarakat urban seperti Indonesia Berkebun, “Urban Farming”, pengelolaan sampah, termasuk pemanfaatan sampah untuk energi. Perlu action atau kegitan lebih lanjut, yang lebih kongkret dalam mendorong akselerasi pemanfaatan EBT di Ekoregion Jawa dengan mempertimbangkan keberlanjutannya.

Untuk itu, mendorong dan mendukung pemanfaatan tanaman bambo sebagai salah satu energi alternatif EBT, sebagai salah satu solusi cerdas mengatasi masalah energi khusunya di Pulau jawa. Pertanyaannya, mengapa harus bamboo. Dari sudut Energi, bamboo merupakan bahan baku bagi energi terbarukan biomasa. Dari sudut Pangan : Tunas/Bambu merupakan Bahan makanan. Dari sudut Iklim, bambu dapat menahan  Erosi Tanah, mempunyai kapasitas juga untuk menyimpan air tanah; berfungsi untuk rehabilitasi, restorasi dan komparasi lingkungan alam; alternatif bahan bangunan ramah lingkungan dan lebih adaptif.

 

BAGAMANA MENGAWAL AKSI PENGEMBANGAN BAMBU ?

Sebagaimana diketahui, Ekoregion Jawa dengan luas kurang lebih 129.600,71 Km2 dan terbagi dalam enam provinsi dan 119 Kab/Kota serta memiliki jumlah penduduk yang sangat tinggi kurang lebih 136.975.600 jiwa. Dengan jumlah penduduk yang tinggi itu membutuhkan pasokan energi dalam jumlah yang amat besar. Apabila kita masih tergantung pada energi fosil tentu tidak pernah cukup. Oleh karena itu, perlu ada langkah atau terobosan baru untuk mengatasi kirisi energi yang akan terjadi di Pulau Jawa dengan mendorong dan mengoptimalkan pemanfaatan EBT. Perlu diketahui kebutuhan energi alternatif guna pemenuhan Target EBT tahun 2025  sebesar 545 juta SBM, Setara dengan tujuh kali lipat  dari pencapaian periode tahun 2013,

Pertanyaannya, mengapa harus bambu. Perlu diketahui, bambu termasuk tanaman bamboidae anggota sub familia rumput.  Di dunia ini ada sekitar 1250—1500 jenis, sementara di Indonesia memiliki 10 % atau sekitar 154 jenis bambu (wijaya et al, 2004). Potensi jenis bambu di dunia (Deny Hingmadi dalam artikel  Pelestarian Hutan Bambu Untuk Mengatasi Pemanasan Global) dikenal dalam 75 genus dan terdiri atas 1500 spesies. Di Indonesia terdapat kira-kira 10 genus yaitu Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, Melacanna, Nastus, Phyllostachys, Shizostachyum dan Thyrostachys.

Di Asia terutama di daerah Indo-Burma dikenal kira-kira 300 species, di India kira-kira 136 spesies, di Burma kira-kira 39 spesies, Di Malaysia kira-kira 29 spesies, di Jepang 9 spesies, di Philipina 30 spesies. Selanjutnya dikatakan bahwa hanya 5 spesies saja (termasuk dalam 2 genus) yang tumbuh asli di Indonesia, sedangkan lainnya merupakan jenis eksotik. Kelima spesies ini termasuk dalam kualitas yang rendah. Adapun cirri-cirinya adalah berdinding tipis, tumbuh asli di Indonesia, sedangkan spesies yang berdinding tebal dan beruas panjang berasal dari Burma serta negara Asia lainnya (Nur Berlian, 1995).

Lieke Tan dalam tulisanya, Mengenal Bambu dan Manfaatnya terhadap Konservasi Alam, Konstruksi, dan Kerajinan, menulis bahwa bambu merupakan tanaman yang dapat ditanam pada lahan yang kering/ basah. Tanaman ini tidak membutuhkan perawatan khusus, investasinya kecil, kemampuan toleransinya terhadap lingkungan tinggi dan memiliki multifungsi sebagai bahan makan, pembungkus, kerajinan, konstruksi, dan industri.

Manfaat bambu dari sisi lingkungan (konservasi) dikatakan tanaman bambu memiliki nilai konservasi tinggi karena mampu member perkuatan permukaan tanah, melalui kemampuan mempengaruhi retensi air dalam lapisan topsoil, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah. Tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat. Struktur akar ini menjadikan bambu dapat mengikat tanah dan air dengan baik. Dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40% air hujan, bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %.

Terkait dengan perubahan iklim, bambu juga mempunyai kemampuan untuk menyerap karbon dioksida (CO2) yang tinggi. Sebagaiman diketahui, Penyebab terbesar terjadinya pemanasan global yaitu gas Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4), Nitrogen Oksida (NO), dan Chlorofluorocarbon (CFC). Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah menghilangkan Karbon Dioksida di udara yang dapat menumpuk di lapisan atmosfer. Untuk menghilangkan gas Karbon Dioksida di udara dilakukan penghijauan yaitu memperbanyak menanam pohon sehingga gas-gas CO2 dari berbagai sumbernya dapat diserap dan tidak sampai ke atmosfer. Gas-gas CO2 tersebut diserap dalam proses fotosintesis yang dilakukan oleh tanaman hijau tersebut.

Dalam hal penyerapan Karbon Dioksida, bambu lebih banyak menyerap Karbon Dioksida dari pada tanaman kayu-kayuan ataupun buah-buahan. Studi menunjukkan bahwa satu hektar tanaman bambu dapat menyerap lebih dari 12 ton karbon dioksida di udara. Ini merupakan jumlah yang cukup besar. Dengan melestarikan hutan bambu, berarti kita telah memiliki mesin penyedot karbon dioksida dalam kapasitas yang besar.

Tanaman bambu juga dapat menjadi sumber energi terbarukan. Dubes RI di Brussel, Arif Havas Oegroseno, menyatakan bahwa prospek indistri bamboo sangat menjanjikan  karena pemanfaatan bamboo tidak lagi terbats pada kerajinan tangan dan industri akan tetapi sebagai sumber energi terbarukan.

Dari sisi ekonomi, tanaman bambu menjadi sumber daya untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kebutuhan pasar akan tanaman bamboo ini sangat tinggi. Eropa membutuhkan 700 ton bamboo panel per bulan. Sementara itu, AS membutuhkan  20 juta ton per tahun. Tanaman ini dapat menjadi panel lantai, bio-fuel, furniture. Kebun bambu itu sendiri dapat menjadi lokasi ‘carbon catchment” . Bambu juga memiliki image sangat bagus yaitu, ’bamboo is the green material’.

Berangkat dari manfaat bambu, maka dilakukan tahapan-tahapan  sebagai berikut:

  1. melakukan pendataan atau inventarisasi data lahan krisis  di 18 lokasi yang direkomendasikan dalam FGD EBT 2016 silam, yaitu Banten 2 Lokasi; Jawa barat 2 Lokasi; Jawa Tengah 5 Lokasi; Jawa Timur 9 Lokasi dan D.I Yogyakarta : 3 Lokasi. Data tentang lahan kritis tersebut dapat diakses dari Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD)
  2. menghitung berapa panjang sungai yang ada atau melewati 18 lokasi tersebut di atas. Data mengenai panjang sungai tersebut dapat diambil dari SLHD dari 18 lokasi tersebut.
  3. kedua data tentang luas lahan kritis dan panjang sungai tersebut disinergikan dengan data daya dukung lingkungan P3E Jawa. (GSW)

Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.