Bookmark and Share

BERITA

Membumikan Isu Langit

25 November 2019, 13:32:31 - Berita - Hits : 147 - Posted by fery

p3ejawa.menlhk.go.id. Sekitar 30 peserta berkumpul di ruang Sambisari Hotel Inna Garuda, Kamis, 21 November lalu. Mereka adalah perwakilan intansi pemerintah, perguruan tinggi, dan penggiat lingkungan, di antaranya dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa, Balai Konservasi Sumber daya Alam Yogyakarta, Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, Pengelola Kampung Proklim Sukunan, Pengelolah Kampung Flory Sleman, dan Srikandi Sungai Indonesia. Hadir juga, para akedemisi dari UGM dan Program Studi Pasca-Sajana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

 

Mereka hadir dalam rangka memberi masukan terkait isu global dan nasional perubahan iklim sebagai acuan dalam penyusunan policy brief dengan tajuk,   Membangun Peradaban Iklim Tropik Indonesia di Era Milenial Untuk Pengendalian Iklim Global. FGD ini hasil kerja  sama Kementerian Linkungan Hidup dengan Klinik lingkungan dan Manajemen Bencana UGM.

 

FGD ini dibuka oleh Dekan Fakultas Geologi UGM—Prof. Dr. Muh. Aris Murfai, S.Si, M.Sc—menampilkan pembicara Ir. Arief Yuwono, MA (Tenaga Ahli Menteri Bidang Evaluasi Kebijakan KLN, KLHK), Dr. Raundha Agung Sugardiman (Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK), Dra. Sri Tantri Arundhatim M.Sc (Direktur Adaptasi Perubahan Ikim, KLHK),  dan Prof. Dr. Suratman M.Sc (Klinik Lingkungan dan Manajemen Bencana UGM), dengan  moderator Dr.Emilya Nurjani, M.Si. pakar iklim dari Fakultas Geografi UGM.

 

Indonesia Darurat Iklim

Saat ini Indonesia telah mencapai tahap darurat perubahan iklim. Dampak-dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, hujan ekstrim, kenaikan muka air laut, dan kebakaran hutan telah meningkat dari segi intensitas dan magnitudo setiap tahunnya. Sebagai contoh telah terjadi pergeseran musim pada wilayah Jawa Tengah dan berdampak pada semakin sulitnya petani menentukan awal musim tanam. Penentuan awal musim tanam secara tradisional yang disebut dengan pronoto mongso dirasakan semakin tidak akurat.

 

Akhir-akhir, ini kemarau berkepanjangan di Jawa pada April hingga Oktober 2019 telah mengakibatkan empat kabupaten/kota darurat kekeringan. Sementara 32 sisanya (kab/kota) siaga darurat kekeringan. Kemarau berkepanjangan juga telah menyebabkan kebakaran hutan di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Hingga pertengahan Septemebr 2019, luas area yang terbakar mencapai 328.722 ha. Berdasarkan luas kebakaran per provinsi, kebakaran Hutan di Kalimantan  Tengah tercatat seluas 44.769 ha, Kalimanatan Barat seluas 25.900 ha, Kalimantan Selatan seluas 19.490 ha, Sumatera Selatan  seluas 11.826 ha, Jambi seluas 11.022 ha, dan Riau seluas  49.266 ha.

 

Indonesia juga merupakan salah satu negara penyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia. Kontribusi tersebut terutama di sebabkan  tekanan penduduk terhadap lahan dan peningkatan  aktivitas industri. Diprediksi pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan 28 persen atau sebesar 67 juta jiwa (UNEP 2015), Akibat bertambahnya jumlah penduduk, saat ini laju pertumbuhan area perkotaan  mencapai 4,4 persen per tahun,  dan diprediksi 68 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan dalam 10 tahun ke depan (Bappenas 2018). Tingginya laju perubahan penggunaan lahan turut berpengaruh pada laju laju deforestasi sebesar lebih dari satu juta  hektar per tahun (RAN 3018) dan menyumbang emisi GRK yang tidak sedikit ke atmosfir. 

 

Perubahan Iklim Dianggap Isu Langit

Sayangnya, meski dampak perubahan iklim sudah sangat terasa saat ini, namun belum banyak orang yang menyadari dan masih dianggapnya sebagai isu langit atau awang-awang  yang belum membumi. Menurut Ir. Arief Yuwono, MA, ini soal persepsi. “Sepertinya orang menganggap Perubahan Iklim itu isu yang tidak dapat dirasakan langsung dan masih dianggap isu yang masih jauh dan tidak terlalu penting atau urgent dibicarakan saat in,”kata Arfief Yuwono, Tenaga Ahli Menteri Bidang Bidang Evaluasi Kebijakan KLN. KLHK,

 

Untuk membumikan isu langit itu, tambah Arief, yaitu melalui kampanye, informasi dan edukasi publik secara sistematis dan massif menjadi penting  dan strategis mengingat bahwa Indonesia masih berada dalam peringkat kesadaran yang rendah atas isu Perubahan Iklim.

 

“Kaum milenial bisa menjadi motor penggerak tindakan nyata, mengingat Perubahan Iklim juga bisa mengancam kehidupan mereka di masa mendatang. Bahwa merekalah yang justru paling merasakan dampak dari perubahan ikilm ini,”usul  Arief Yuwono.

 

Senada dengan Arif Yuwono, Direktur Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia, KLHK—Dr. Raundha Agung Sugardiman, menyatakan, Indonesia terletak antara dua benua dan dua samudera besar. Naiknya temperatur bumi—katanya—yang semakin tinggi selama 50 tahun terakhir ini mengakibatkan es di kutup utara mencair. Hal itu, itu mengakibatkan permukaan air laut naik.

 

“Bayangkan pulau-pulau kecil kita dengan kenaikan 10 cm. Artinya, pantai-pantai indah kita banyak yang hilang. Itu potensi wisata kita yang luar biasa. Belum lagi kerugian fisik dan sebagainya itu. Artinya, dan itu sudah terjadi saat ini,”tegas Raundha.

 

Menurut Raundha, yang harus disiapkan pemerintah kepada masayarakat adalah  pemahaman bahwa kita harus mengadapi dampak perubahan iklim itu secara bersama-sama. “Mari masalah global ini harus diselesaikan secara global iuga. Karena itu, kita aktif di konferensi internasional untuk mendorong upaya bersama secara global ini. walau secara action-nya kita lakukan di tingkat tapak,”jelas  Raundha kepada JENDELA disela-sela acara FGD ini.

 

Konggres Iklim Indonesia

FGD sehari ini tidak lain menggali ide atau pemikiran terkait isu global dan nasional perubahan iklim. Prof. Dr. Suratman M.Sc dari Klinik Lingkungan dan Manajemen Bencana, UGM, salah satu penggagas FGD ini, mengatakan,  FGD merupakan awal dari suatu gerakan yang sifatnya multihelix untuk merespon mitigasi, adaptasi iklim secara nasional. Untuk itu maka langkah berikutnya akan ada petunjuk-petunjuk teknis yang dapat diikuti oleh multihelik untuk menjalanakan program-program nyata di lapangan terkait perubahan iklim.

 

“Nanti akan ada FGD kecil, untuk menyusun policy brief yang rencananya menteri KLHK yang kasih pengantar. Setelah itu kita akan mengdeklarasikan program ini dan kita akan mencanangkan program gerakan nasional ini, aksi nasional di dalam suatu Konggres Iklim Indonesia. Konggres itu sebagai akumulasi dari aksi-aksi. Nanti ada buku best practice yang dapat dipakai,”pungkasnya.* (Yustinus Adi Stirman)


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.