Bookmark and Share

BERITA

Perlu Kolaborasi Seni dan Lingkungan

17 Juli 2019, 17:29:27 - Berita - Hits : 54 - Posted by fery
Perlu Kolaborasi Seni dan Lingkungan

P3ejawa.menlhk.go.id. Bantul. Persoalan lingkungan yang semakin kompleks dengan laju kerusakan dan pencemarann lingkungan yang terus meningkat belakangan ini menuntut perlunya kerja sama dari berbagai stakeholders dalam menanganinya,  termasuk para pekerja seni. Untuk itu, dipandang perlunya kolaborasi antara pekerja seni dan penggiat lingkungan.

Hal ini mengemukan dalam diskusi  yang digelar The Climate Reality Project Indonesia bekerja sama dengan RuangDalam Art House Yogyakarta dalam bincang-bincang santai sambil ngopi tentang seni, lingkungan hidup dan perubahan iklim. Diskusi ini berlangsung di Kantor RuangDalam Art House, Jl. Kebayan Gang Sawo No.55, Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Selasa, 16/7/2019.

Untuk diketahui, The Climate Reality Project Indonesia adalah organisai nirlaba yang didirikan pada tahun 2009. Organisasi ini berdiri berangkat dari kondisi bumi yang sedang mengalami iklim ekstrem yang dapat mengganggu kehidupan manusia dan pembangunan ekonomi. Climate Reality Indonesia merupakan perwakilan dari The Climate Reality Project yang didirikan pada tahun 2006 noelh Al Gore—mantan wakil presiden Amerika Serikat  yang berpusat di Washington.

Hingga saat ini, Climate Reality Indonesia memiliki anggota 315 Climate Reality Leaders—mereka yang giat mengarusutamakan krisis iklim dan menawarkan solusi inovatif dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, ekonomi, dan lingkungan. Adapun anggotanya mewakili tokoh lintas agama, pejabat/pegawai berbagai kementerian, KPK, DPR, DPD, petani, pengusaha, sivitas akademika, wrtawan, professional berbagai bidang, dan aktivis LSM.

Hadir dalam diskusi ini, Sumartinah, S.H. M.Hum (mewakili Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ), Sudjud Dartanto (kurator seni galnas), sylvi (emakzerowaste), Isana (praktisi zerowaste), Tatang (pembatik alam), Tomy Apriando (jurnalis Mongabay), Dodo Putra Bangsa (penggiat lingkungan dan Sosial), Mbah Boy Watu Lumbung (penggita Eco Wisata), Dias Prabu (muralis Founder PMP) Eddie Prambandono (seniman patung), Adam (foreign artist),  Gusmen Heriadi (artis),  Gilang Suprapto (musisi), dan Gatot  (fotografer, biologist).

DIY Terancam Krisis Air

Diskusi sersan alias serius tapi santai ini berlangsung hangat, dipandu Eddie Prambandono, seorang seniman patung Yogyakarta. Diskusi semakin serius takala Tomy Apriando—jurnalis dari media on line Mongabay, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi lingkungan Indonesia, khususnya DIY, yang saat ini, kata Tomy, terancam krisis air. Selain itu, lanjutnya, ancaman pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol yang mengancam ketahanan pangan dan daya dukung daya tampung lingkungan adalah persoalan lingkungan lain yang takalah seriusnya.

“Persoalan besar DIY ke depan adalah krisis air bersih. Belum lagi masalah ancaman ketahanan pangan,” ujar Tomy, prihatin. 

Dari diskusi selama lima jam pada akhirnya semua sepakat, untuk menyelamatkan kondisi lingkungan saat ini semakin mengkhawatirkan perlu kerja sama yang menglibatkan berbagai staholders. Salah satunya, kolaborasi antara pekerja seni dengan pejuang/penggiat lingkungan, pemerintah, dan masyarakat.*


Banner
  • #AkuKamuKitaSemuaPeduliLingkungan
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : forum.ppejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.