Bookmark and Share

ARTIKEL

TENGSEK SEBAGAI TANAMAN ENDEMIK MERAPI

01 September 2021, 23:10:11 - Lingkungan Hidup - Hits : 2347 - Posted by admin-uut
TENGSEK SEBAGAI TANAMAN ENDEMIK MERAPI

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi yang ada di bagian tengah Pulau Jawa, tepatnya di DI Yogyakarta. Merapi juga merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Ekosistemnya yang berada di kawasan volcano (gunung berapi) sehingga memiliki tumbuhan khas pegunungan.

Salah satu upaya pelestarian kawasan ini adalah dengan ditetapkannya kawasan lindung Taman Nasional Gunung Merapi sebagai kawasan pelestarian alam karena memiliki ekosistem asli.

Secara klimatologis, Gunung Merapi masuk wilayah iklim musim tropis, yang dicirikan hujan dengan intensitas yang tinggi pada musim hujan (November-April) yang kemudian berganti dengan bulan-bulan kering (April-Oktober).
Hujan tahunannya berkisar antara 2500-3000 mm.

Seperti halnya di wilayah musim tropis lainnya, variasi suhu dan kelembaban udara pada dasarnya tidaklah menyolok. Suhunya berkisar antara 20-33 °C dan kelembaban udara bervariasi antara 80% – 99%.

Kawasan Gunung Merapi yang berada di ekosistem volcano, menyimpan potensi keanekaragaman hayati termasuk tumbuhan lokal yang penting dalam menjaga stabilitas fungsi ekosistem hutan pegunungan.

Hasil survei potensi tumbuhan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi ditemukan kurang lebih 154 jenis tumbuhan, dengan komposisi jenis tertinggi terdapat pada tingkat pertumbuhan sembai dan tumbuhan bawah.

Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memiliki beberapa tanaman lokal seperti Sarangan/Saninten (Castanopsis Argentea), Pasang (Lithocarpus sp.), Tesek (Dodonea Viscosa), Puspa (Schima Wallichi), Sowo (Engelhardia Spicata), Dadap Duri (Erythrina Lithosperma) serta beberapa jenis family Orchidaceae (Anggrek).

Pohon Tengsek atau Sulaiman
Salah satu tanaman endemik di kawasan Gunung Merapi, yaitu pohon tengsek atau tesek, beberapa menyebutnya sebagai Pohon Sulaiman.

Di habitat aslinya di lereng Gunung Merapi, pohon tengsek tumbuh di ketinggian 1.500 meter dpal.

Pohon ini dikenal dengan nama Tengsek Sulaiman atau bahasa latinnya Dodonaea Viscose , mampu hidup ratusan tahun ini memiliki ciri batang yang keras, berwarna hitam, seratnya lurus sejajar dengan batang, panjang dan rapat.

Biasanya pohon ini tumbuh kerdil, hanya beberapa meter dari permukaan tanah. Meski begitu, tumbuhan ini juga bisa mencapai ketinggian hingga 40 meter tergantung dari kelestarian alam dan tanah yang ditumbuhinya.

Daunnya hijau mengkilap, berbentuk memanjang dan meruncing. Memiliki bunga yang cantik dan mengalami tiga kali perubahan warna mulai dari warna hijau merah, keunguan, dan terakhir berubah menjadi coklat.

Sebagai Obat Herbal
Manfaat tumbuhan ini adalah sebagai obat herbal untuk penyakit kanker. Kayunya digunakan sebagai gagang keris dan sebagai bahan pembuat tasbih.

Sebagian masyarakat menggunakan untuk keperluan upacara adat dan penolak ilmu hitam/bala.

Selain itu, secara ekologis tanaman ini memiliki fungsi sebagai penyimpan airtanah.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Jarot Jaka Mulyono menyebutkan bahwa pasca erupsi tahun 2010, teridentifikasi 6 kelompok sebaran Tesek: yaitu kelompok Cangkringan, Gunung Bibi dan Mriyan (berada pada kelas kerusakan ringan), dan kelompok Tlogolele, Balerante dan Dukun (berada pada kelas kerusakan sedang).

Perluh Dilindungi
Dilangsir dari jatengprov.go.id, pohon tengsek keberadaannya semakin langka di habitat asalnya di kawasan lereng Gunung Merapi. Hal ini dikarenakan Gunung Merapi yang sering mengalami erupsi.

Budidayanya juga sulit dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu pohon ini tumbuh besar. Kecuali itu, untuk mendapatkan bibit pohon tengsek juga tidak mudah karena harus masuk ke hutan di lereng gunung dan biji dapat diambil pada pohon tersebut.

Adapun kelebihannya, tanaman ini dapat dibudidayakan dan ditanam di lokasi mana saja.

Karena pertumbuhannya yang sangat lamban, jarang ada orang yang mau membudidayakan tanaman ini.

Salah satu upaya untuk menyelamatkan tengsek dapat dilakukan melalui konservasi secara insitu dan eksitu, serta partisipasi masyarakat sekitar kawasan Gunung Merapi.*

(Dari berbagai sumber).

Penulis : Feni Utami


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.