Bookmark and Share

ARTIKEL

Karst, Potensi dan Ancamannya

27 Desember 2020, 14:46:54 - Lingkungan Hidup - Hits : 2930 - Posted by admin-uut
Karst, Potensi dan Ancamannya

Ekosistem Karst dan Habitatnya

 

Istilah kars yang dikenal di Indonesia diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia, lewat istilah geologi internasional yang dipakai dalam bahasa Belanda. Istilah aslinya adalah krst/krast yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia timur laut, dekat wilayah pariwisata Trieste.

Daerah kars terbentuk oleh pelarutan batuan yang terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat misalnya dolomit, dalam evaporit misalnya gips dan halite, dalam silika contohnya batupasir dan kuarsa, dan dibasalt dan granit di mana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable), daerah ini disebut kars asli.

Daerah kars dapat juga terbentuk oleh penyebab lain, diantaranya adalah proses cuaca, kegiatan hidraulik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, maka disebut  pseudokarst atau kars palsu.

Indonesia kaya dengan kawasan karst. Kawasan kars di Indonesia mencakup luas sekitar 15,4 juta hektare dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Perkiraan umur dimulai sejak 470 juta tahun lalu sampai yang terbaru sekitar 700.000 tahun.

Daerah-daerah karst menyebar di seluruh Indonesia dari sabang sampai maraoke antara lain : Pegunungan kars di daerah Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Gunung Leuser (Aceh), Perbukitan Bohorok (Sumatera Utara), Payakumbuh (Sumatera Barat), Bukit Barisan, mencakup Baturaja (Kabupaten Ogan Kombering Ulu), Sukabumi selatan (Jawa Barat), Kawasan Karst Gombong Selatan, Kebumen (Jawa Tengah), Pegunungan Kapur Utara, mencakup daerah Kudus, Pati, Grobogan, Blora dan Rembang Jawa Tengah). Pegunungan Kendeng, Jawa Timur, Pegunungan Sewu, yang membentang dari Kabupaten Bantul (Yogyakarta) di barat hingga Kabupaten Tulungagung di timur, Sistem perbukitan Blambangan, Jawa Timur, Perbukitan di bagian barat Pulau Flores, tempat lokasi banyak gua, salah satu di antaranya adalah Liang Bua (Nusa Temggara Timur), Perbukitan karst Sumba (NTT), Pegunungan karst Timor Barat (NTT), Pegunungan Schwaner (Kalimantan Barat), Kawasan Pegunungan Sangkulirang - Tanjung Mangkaliat seluas 293.747,84 hektare, memiliki gua-gua dengan lukisan dinding manusia purba (Kalimantan Timur), Perbukitan Maros Pangkajene, terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, seluas 4.500 hektare dan beberapa di antara gua-gua yang ada memiliki lukisan purba, Kawasan karst Wowolesea, memiliki sistem air asin hangat (Sulawesi Tenggara), Pulau Muna, Kepulauan Tukangbesi, Pulau Seram (Maluku), Pulau Halmahera (Maluku Utara), Kawasan karst Fakfak (Papua Barat), Pulau-pulau Biak dan Pegunungan Tengah dan Pegunungan Lorentz (Papua), Kawasan Batu Hapu, Tapin, Kalimantan Selatan, Kawasan Karts di Kabupaten Kutai Timur mulai dari Marangkayu, Bengalon, Sangkulirang dan Maloy (Kalimantan Timur), Sisa-sisa permukiman manusia purba ditemukan di Leang Cadang, Leang Lea, dan goa-goa lainnya di Maros, Goa Sampung dan Goa Lawa di Ponorogo, Goa Marjan dan Goa Song di Jember, Song Gentong (Tulungagung), Song Brubuh, Song Terus, dan Goa Tabuhan di Pacitan. Lukisan atau cap dinding ditemukan di kawasan Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Kepulauan Kai, Seram, Timor, serta Papua. Ini menunjukkan indikasi migrasi manusia ke arah timur. Selain itu ditemukan pula berbagai sisa berbagai jenis vertebrata berusia 1,7 juta tahun hingga 700.000 tahunKeberadaan kawasan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Indonesia banyak yang pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat dan mengalami pengerasan

Beberapa kawasan tersebut telah dikembangkan sebagai kawasan karst bahkan telah menjadi Geopark, misalnya kawasan Kawasan Pegunungan Sewu, Pegunungan Maros, dan Pegunungan Lorentz yang telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi Kawasan Warisan Dunia karena nilai ekologi, ekonomi, dan kesejarahannya

Salah satu obyek wisata karst yang indah adalah Goa Gong yang terletak di kabupaten Pacitan. Goa Gong termasuk gua horizontal yang panjang nya sekitar 256 meter yang terbentuk dari karena proses pelapukan pada wilayah kapur. Pelapukan adalah peristiwa penghancuran massa bantuan,baik secara fisik, kimiawi, maupun secara biologis.

Kawasan karst menyimpan berbagai potensi diantaranya potensi ekonomi, keanekaragaman hayati, sarang burung walet, obyek wisata, nilai ilmiah maupun budaya. Namun  yang tidak kalah penting adalah fungsi ekologis kars untuk menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan karst dan lingkungan sekitarnya.

Ekosistem kars memiliki keunikan, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati. Ciri-ciri daerah kars antara lain daerahnya berupa cekungan-cekungan, terdapat bukit-bukit kecil, sungai-sungai yang tampak di permukaan hilang dan terputus ke dalam tanah, adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah, adanya endapan sedimen lempung berwarna merah hasil dari pelapukan batu gamping, permukaan yang terbuka tampak kasar, berlubang-lubang dan runcing. terdapat gua-gua di sekitarnya,

Kehidupan habitat berbagai jenis spesies flora,fauna bahkan mikroba, karst dan gua menjadi tempat yang belum banyak digali potensinya. Beberapa spesies flora ditemukan hidup di tebing-tebing atau mulut gua yang lembab dan mempunyai sebaran yang sangat terbatas. Sistem perguaan yang panjang dan gelap menjadi habitat yang sangat khas. Lingkungan yang gelap total serta kelembaban yang tinggi dan rentang suhu yang sangat sempit menyebabkan beberapa spesies fauna yang hidup memiliki bentukan yang sangat unik dan aneh. Fauna dari kelompok arthropoda, hewan berbuku-buku, mendominasi lingkungan gua. Komposisi spesies fauna yang hidup di dalam gua 95% didominasi oleh arthropoda dimana sisanya mamalia dan burung. Beberapa spesies fauna gua, khususnya arthropoda, mempunyai kemampuan adaptasi yang telah diturunkan selama berjuta-juta tahun sehingga mereka mampu hidup dan beregenerasi turun temurun dengan kenampakan bentuk yang sangat unik dan bahkan aneh.

Selain itu, ikan khas gua yang sudah mengalami pengecilan mata sehingga kepalanya melengkung juga ditemukan hidup di danau bawah tanah di salah satu gua di Desa Samanggi, Maros. Beberapa ikan gua dengan kenampakan yang aneh juga pernah ditemukan di Gunungsewu di Sungai bawah tanah di Luweng Jurang Jero dan juga danau bawah tanah Luweng Serpeng, Puntius microps. Mereka semua telah teradaptasi pada lingkungan gua dan memiliki sebaran yang sangat sempit. Semua kawasan karst di Indonesia menjadi gudang spesies baru yang masih perlu terus dieksplorasi sehingga dapat memberi gambaran utuh potensi hayati karst Indonesia.

Potensi Kawasan karst adalah merupakan penghasil jutaan liter air untuk menghidupi flora, fauna dan masyarakat setempat. Fungsi kawasan karst sebagai penyerap air hujan dan menjadi sumber mata air untuk kehidupan sehari-hari dan menjadi sumber air di sejumlah sungai utama. Hal ini menunjukkan kawasan karst berperan besar terhadap sumber mata air baku, sehingga  karst sangat penting dalam menopang kehidupan dalam ketersediaan air tawar bersih bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian, pertanian maupun perkebunan.

Potensi lain yang umum dikenal adalah sebagai sumber daya bahan galian untuk bahan bangunan, atau bahan baku semen. Contoh penambangan di kawasan karst (batu gamping) adalah di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta .Hal ini berdampak besar terhadap kelestarian kawasan tersebut, terutama terhadap kondisi air bawah tanah dan ekosistem disekitarnya.

Menurut Ir. Pramudji Ruswandono, M.Si, Kepada Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Gunung kidu, selama ini kawasan karst Gunung Kidul yang termasuk dalam Kawasan Karst Gunungsewu telah mememenuhi kebutuhan air baku bagi 120.000 jiwa. Jumlah itu baru dicukupi dari dua sistem sungai bawah permukaan saja, yaitu Sistem Goa Seropan dan Sistem Goa Bribin.Selain itu, karst justru merupakan lokasi akuifer air yang baik, berpengaruh langsung bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.  Dengan maraknya penambangan tidak menutup kemungkinan akan merusak ekosistem, habitat flora fauna maupun sistem kemampuan penyimpan air bawah tanah akan terancam rusak dan punah. Selain pegunungan gamping, Gunung Kidul terkenal dengan keindahan pantai dengan karstnya yang menyimpan potensi besar pariwisata sebagai salah satu sumber ekonomi di masa mendatang. Saat ini banyak kawasan karst yang rusak akibat penambangan yang berlebihan. Akibatnya simpanan air tanah di bawahnya pun jadi berkurang.  Jika ini terus berlanjut akan mengganggu keseimbangan lingkungan.


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.