Bookmark and Share

ARTIKEL

INDONESIA MELAWAN SAMPAH PLASTIK

01 September 2021, 23:43:21 - Komunikasi Lingkungan - Hits : 905 - Posted by admin-uut
INDONESIA MELAWAN SAMPAH PLASTIK

Hampir semua aktivitas kita menghasilkan sampah. Mulai dari sampah sisa makanan, plastik kemasan, kertas, hingga sampah yang berasal dari bahan logam.

Tidak heran, permasalahan sampah menjadi momok yang terus menerus mencuat dan mengancam keberlanjutan kehidupan di planet bumi yang pada tahun 2020 sudah mencapai 7,7 milar jiwa. Dan, masalah terbesarnya adalah ancaman bahaya sampah plastik.

Mengutip Katadata.com , setidaknya ada 175 ton sampah baru dalam satu hari di seluruh Indonesia. Ya, sampah sebanyak itu dapat menutupi Gelora Bung Karno dengan ketinggian tiga kalipat dari bangunan tersebut.

Dominasi Sampah Organik
Sementara itu, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2017, menunjukkan, timbulan sampah di Indonesia secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun.

Komposisi sampah tersebut didominasi oleh sampah organik, mencapai 60% dari total sampah. Menyusul sampah plastik di posisi kedua dengan 15%. Sampah, kertas 9%, dan karet 5,5%. Sampah lainnya, logam, kain, kaca, dan jenis sampah lainnya.

Dari total timbulan sampah plastik itu, 15-30% belum terkelola dan terbuang ke lingkungan, terutama ke lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut.

Dan, bagian terburuknya, sampah plastik sebesar 15% tadi menempati urutan kedua di dunia setelah China.

Diikutip dari cnnindonesia.com , dikatakan, berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Sementara diurutan ketiga adalah Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

Industri Minuman Meningkat
Pencemaran plastik di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat ke depan. Hal ini seiring dengan berkembangnya industri minuman di Indonesia, mengingat hal tersebut merupakan salah satu sektor yang pertumbuhannya paling pesat. Bagaimana tidak, pada kuartal I tahun 2019 saja, pertumbuhan industri pengolahan minuman mencapai 24,2% secara tahunan.

Bank Dunia (World Bank) menyebutkan polusi sampah plastik yang mencemari lautan Indonesia telah menyebabkan hilangnya pendapatan hingga US$140 juta di sektor pariwisata dan US$31 juta di sektor penangkapan ikan atau total US$171 juta.

Mengutip Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander dalam acara Indonesia Economic Quarterly di Jakarta (Juli 2020), selama ini sektor perikanan telah menyumbang sebesar USD 29,6 miliar atau sebesar 2,6% dari total produk domestik bruto (PDB). Dan, telah berkontribusi untuk sisi ekspor sebesar 2,4%.

Dari sisi pariwisata, keindahan terumbu karang Indonesia yang masuk dalam segitiga koral (coral triangle) dan memiliki 76% spesies koral yang ada di seluruh dunia, telah mendatangkan keuntungan USD 31 miliar tiap tahunnya.

Artinya apa, akan ada tujuh juta manusia Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari sektor perikanan yang akan terdampak dari kerusakan laut yang disebabkan oleh pengelolaan sampah plastik yang buruk.

Tanggung Jawab Bersama
Namun yang sedikit membuat kita lega, Indonesia sudah memiliki UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, di mana salah satu isinya tentang Extended Producer Responsibility (EPR). Dalam EPR, produsen mulai bertanggungjawab atas kemasan yang dihasilkan oleh produknya.

Menyikapi masalah sampah ini, KLHK memang tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan. Salah satunya, dengan menerbitkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.75 tahun 2019 mengenai Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Di Indonesia sendiri sudah ada perusahaan yang menerapkan program EPR. Sebut saja, PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS), GO-JEk, Djournal Coffee, dan The Body Shop. Perusahan perusahaan ini menerima kembali pengembalian sisa kemasan produk untuk didaur ulang, sehingga mengurangi jumlah sampah kemasan yang berakhir di TPA atau dibuang ke laut.

Tentu masalah sampah bukan hanya urusan perusahaan saja, tapi juga tanggung jawab bersama. Termasuk masyarakat. Masyarakat dapat berperan dalam mengurangi sampah dengan menerapkan Reduce, Reuse dan Recyle (3R). Selain itu, adanya Bank Sampah yang tumbuh menjamur di negeri ini adalah salah satu kontribusi masyarakat di tingkat tapak. Dan, lebih dari itu, yang perlu dibangun adalah kesadaran kolektif bahwa sampah, khususnya sampah plastik perlu dikelola dengan baik sehingga tidak lagi mencemari lingkungan laut.*


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.