Bookmark and Share

ARTIKEL

KOTA dalam Perubahan Iklim

01 September 2021, 15:47:31 - Lingkungan Hidup - Hits : 1214 - Posted by admin-uut

oleh Prof.Johan Silas

Banyak yang masih sinis terhadap masalah dampak perubahan iklim global atau pemanasan global, bahkan takut terhadap akibat dari perubahan cuaca ini. Ada pula yang beranggapan bahwa makin seringnya gempa dan erupsi gunung api disebabkan oleh lempeng bumi berkembang akibat naiknya temperatur air laut. Masalah pemanasan global bukan terbatas pada naiknya suhu bumi dan laut, tetapi juga akibat ulah yang menyebabkan makin panasnya bumi ini membuat kehidupan makin bermasalah. Identifikasi seperti menggulungnya awan penghasil hujan sehingga terbentuk apa yang disebut sebagai admospheric river menyebabkan hujan turun dalam jumlah di tempat yang terbatas seperti yang pernah terjadi di London yang mengalami bajir besar. BMKG tidak pernah mengabarkan terjadinya gejala ini atau memang tidak terjadi di Indonesia.

Beberapa kasus berikut akan memberi gambaran yang lebih jelas tentang ada tidaknya perubahan iklim yang dirasakan penderitaan rakyat jelata paling parah. Pada tanggal 11 Agustus 2011 hujan deras telah melanda daerah Sind di Pakistan. Bagi mereka yang pernah ke luar perkotaan Pakistan akan tahu bahwa umumnya rumah tidak memakai menutup atap permanen karena hujan nyaris tidak pernah turun. Kalau toh turun ini dianggap sebagai berkah yang disyukuri.

Sebagian besar daerah Sind merupakan gurun yang kering sehingga mustahil membangun sistem pematusan. Namun hujan deras yang mendadak turun pada tanggal 11 Agustus 2011 tersebut adalah peristiwa yang tidak pernah dikenal seingat generasi-generasi terakhir. Apalagi hujan berlangsung sekitar sebulan lebih sehingga menelan korban lebih dari 400 jiwa. Dan, beribu-ribu hektar sawah yang dibangun dengan susah payah dan mahal, rusak akibat endapan tanah yang dibawa banjir.

Pada tanggal 17 Maret 2019, giliran Iran yang dihajar hujan lebat dan menyebabkan banjir besar di 26 dari 31 provinsi yang ada serta menelan jiwa sekitar 70 orang meninggal. Memang yang terjadi di Iran tidak sedahsyat dan separah seperti di Pakistan, namun prinsipnya sama yaitu tidak siap atas kedatangan hujan lebat terus-menerus.

Di Eropa, banjir umumnya disebabkan oleh mencairnya salju yang amat banyak setelah musim dingin lewat seperti yang terjadi di London di awal abad ini. Kenyataannya, tiap tahun ada laporan tentang banjir akibat pencairan salju dalam jumlah besar di banyak wilayah utara bumi ada kaitannya dengan perubahan cuaca yang sebenarnya dapat diantisipasi walaupun jumlahnya besar sekali dan datanya dapat diantisipasi.

Masalah parah dihadapi oleh kota-kota besar seperti Jakarta, London, Shanghai dan banyak kota besar lain yang lokasinya dekat pantai. Di samping muka air laut memang naik akibat pemanasan global, keadaan makin parah sebab sejak lama terjadi muka tanah (subsidensi) yang turun di kota besar tersebut. Apalagi bila kota-kota bersangkutan dilalui sunga-sungai besar menuju laut dan sering terhalang sampah, maka banjir yang dialami membawa derita lebih berat karena ada pasokan air (sering membawa sampah) dalam jumlah besar dari hulunya.

Menghadapi keadaan seperti di atas, apakah tidak ada solusinya? Berapa jumlah warga dunia tidak punya tempat yang aman dari gangguan alam di perkotaan? Ada baiknya kita menengok sebentar pada pengalaman pengadaan kota baru Kuala Kencana di Kabupaten Mimika Papua yang merupakan sebuah company town milik Freeport Indonesia. Semula kota tersebut direncanakan oleh konsultan gabungan Eropa-Australia yang pada pemikirannya sama sekali tidak mengindahkan kondisi lingkungan dan cuaca di Papua yang unik sebab tidak berusaha mau mengenalnya.

Ketika rencana mulai dilaksanakan, terasa ada banyak masalah dan kritik dari berbagai pihak sehingga Freeport Indonesia minta perencana dalam negeri untuk merencanakan ulang yang hasilnya dapat dilihat (juga melalui internet) pada Kuala Kencana kini. Perencanaan diawali dengan mengenal masyarakat dan karakteristik alam dan cuaca di situ. Kunjungan ke pedalaman dan pantai merupakan sebuah keniscayaan.

Dalam kunjungan ke pedalaman Mimika, ada temuan yang jarang dipahami perencana karena tidak/kurang perhatian seperti gejala sungai yang berpindah-pindah (jalan-jalan) tempat akibat pola hujan yang berubah-ubah dilengkapi hutan yang sangat fragile. Juga nampak keterkaitan erat antara tanaman dan beragam burung eksotik yang memasok makanan oleh beragam jenis pohon.

Yang juga mudah menjebak dan membahayakan di Papua adalah keadaan aliran air hujan yang sangat unik. Jalan air (waterway) yang tidak sedang hujan merupakan dataran yang luas dan indah menawan. Namun sekali hujan deras turun yang jumlahnya dapat sebesar hujan setahun di Surabaya, kawasan ini menjadi sungai berbahaya yang lebar dengan aliran air deras mengandung kekuatan besar. Apa saja yang menghalangi jalannya air pasti diterjang habis tanpa kecuali sehingga banyak tiang jembatan roboh.

Hal seperti ini terjadi pada musibah banjir di pemukiman Wasior yang menelan korban jiwa dan harta, serta bencana di perumahan Sentani beberapa waktu yang juga lalu menelan korban jiwa dan cedera serta kehilangan harta benda. Dengan sendirinya perubahan iklim global akan membuat cuaca makin meningkat keganasan waterways tersebut dengan akibat seperti di atas. Namun kota Kuala Kencana yang diresmikan pada tahun 1994 hingga kini berjalan aman-aman saja.

Ada hukum alam yang tidak dapat dan tidak boleh ditawar-tawar yaitu apapun yang diusik (oleh manusia) terhadap sistem tatanan dan fungsi alam harus diganti agar keseimbangan semula terjaga. Bila tidak dilakukan dan keseimbangan terganggu, maka suatu saat alam akan mencari cara pengganti menurut azasnya sendiri. Bencana tsunami yang terjadi di Aceh dan Palu akhir-akhir belum lama berselang, menunjukkan bahwa semua kawasan yang sebelumnya direklamasi dari laut, disapu habis dan diambil kembali oleh alam melalui bencana.

Pembangunan sebuah kota pasti akan mengusik tatanan alam sehingga berlaku pula hukum yang sama. Agak sedikit beda dengan Surabaya yang lebih dari dua pertiga luasnya dibentuk melalui proses sedimentasi tujuh sungai berabad-abad lalu.Tanah endapan yang lunak menjadikan pembangunan Surabaya tidak mudah mengusik sistem alam yang ada yang lebih tua berupa kawasan soft soil yang luas. Keadaan ini kurang dikenal baik oleh pelaku perencana gedung besar seperti peristiwa amblesnya Jalan Gubeng di Surabaya tahun 2018.

Pembangunan kota dalam menjaga keserasian dengan alam perlu dilakukan melalui tiga cara inovatif berikut yaitu membangun sebanyak mungkin koridor air (pematusan, dilengkapi pompa untuk kawasan datar) agar air hujan cepat, lancar dan terkendali mencapai laut, membangun sebanyak mungkin ruang hujau seperti taman (aktif dan pasif), kawan hutanyang luas serta embung di tempat-tempat strategis.

Di Surabaya upaya ini masih dilengkapi dengan pohon-pohon dalam rangka keanekaragaman hayati di hampir semua jalan kota untuk memberi keteduhan dan banyak manfaat lain. Perimbangan antara kawasan terbangun dan kawasan lindung (RTH) terus dijaga secara kuantitatif serta kualitasnya juga ditingkatkan dengan menanam semak dan bunga di bagian bawah pohon.

Dampak nyatanya dari upaya ini adalah turunnya suhu udara kota (masih relative) sampai ada kenyamanan psikologis sehingga tawuran atau demo anarkis sudah masuk ke dalam sejarah. Prinsip pembangunan kota yang dilakukan di Surabaya sebenarnya dapat berlaku pembangunan di luar kota yang saat ini makin sering dilanda banjir besar, tanah longsor dengan akibat korban jiwa meninggal atau cedera sampai kerusakan infrastrukur jalan dan jembatan yang mahal. Biaya perbaikan mahal dibandingkan bila sebelumnya usikan alam telah diganti dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Saat ini kota-kota sudah padat dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dan sudah melebihi separuh penduduk yang ada. Akibat keadaan ini tidak sedikit mengusik tatanan alam dengan merambah kawasan yang semula (dan seharusnya) hijau, mulai dari pertanian dan hutan yang hilang sampai ke bagian tinggi kota yang mengganti pohon struktur beton seperti nampak di Tamansari (Bandung), Candi (Semarang) sampai “Bukit Darmo” di Surabaya. Yang menjadi korban dari usikan terhadap kawasan hijau di atas adalah bagian bawahnya selalu kena aliran air keras serta sekali-sekali tanah bergeser keluar oleh tekanan di atasnya.

Tidak dapat disangkal bahwa banyak kawasan luar kota yang tinggi dan hijau juga mengalami hal sama, mulai pembangunan pertanian dan perkebunan, kemudian menjadi tempat hunian dan berbagai struktur bangunan tanpa mengindahkan tatanan alam semula. Tidak ada pilihan lain bagi daerah Kabupaten untuk secara serius memetakan usikan-usikan yang terjadi untuk fungsi apapun, kebanyakan sebagai second home. Diikuti dengan menyusun remedi atas usikan seperti membangun koridor air sampai menyiapkan embung dan forestasi bagi kawasan alam yang terusik.Sedang rencana pembangunan (usikan) baru perlu memakai selektif planning seperti dilakukan di Kuala Kencana.

Sebagai penutup perlu dipahami pula bahwa perubahan iklim global yang diamanti cukup lama oleh sekelompok peneliti menemukan keadaan yang paradoksal yaitu negara maju makin kaya dan negara berkembang makin miskin.Dalam bentuk simpel paradoks ini nampak pula di keadaan Indonesia.Salah satu akibat dari perubahan iklim adalah suhu makin panas dan sekaligus hujan makin lama karena air laut yang menguap makin banyak.Hujan yang durasinya lebih lama membuat suhu sejuk juga makin panjang dan kenyaman kerja makin baik dan proktivitas makin tinggi. Belakangan ini Surabaya mengalami udara yang sejuk lebih lama dan yang panas berkurang.

Di negara maju pemanasah global membuat cuaca nyaman makin lama sehingga produktivitasnya makin bertambah besar alias makin kaya. Sebaliknya negara berkembang yang masih miskin seperti di Afrika dan Amerika Latin, hari yang baik untuk bekerja makin berkurang oleh gangguan iklim seperti badai, kekeringan sampai banjir dan sebagainya. Kondisi ini menurunkan produktivitas secara signifikan bagi negara bersangkutan sehingga peluang maju berkurang seperti yang terjadi di Banglades.

 

*) Penulis adalah Ahli Perencanaan Kota dan Lingkungan,

guru Besa Luar Biasa ITS


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.