Bookmark and Share

ARTIKEL

BELAJAR DARI KELOMPOK TANI SEDYO RUKUN

13 Juli 2020, 15:22:47 - Komunikasi Lingkungan - Hits : 393 - Posted by admin-uut
BELAJAR DARI KELOMPOK TANI SEDYO RUKUN

Salah satu upaya pembangunan kehutanan, yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat di dalam dan di sekitar hutan untuk berpartisipasi dalam pembangunan kehutanan melalui perhutanan sosial.

Sebagaimana diketahui, perhutanan sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak / hutan adat yang dilaksanakan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya.

Dalam sejarahnya, perhutanan sosial ini dimulai sejak tahun 1999. Dan, terus berlanjut hingga saat ini dengan berbagai perkembangan dan dinamikanya. Adapun tujuannya, untuk mencapai masyarakat sejahtera dan hutan lestari.

Akses legal pengelolaan kawasan hutan pada perhutanan sosial, dibuat dalam lima skema pengelolaan:

Pertama, skema Hutan Adat (HA), adalah hutan yang berada di dalam wilayah masyarakat hutan adat

Kedua, skema Hutan Desa (HD) hutan negara yang hak pengelolaannya diberikan kepada lembaga desa untuk kesejahteraan desa. .

Berikutnya, ketiga, skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR/IPHPS), adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalm rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan.

Selanjutnya. keempat, skema Kemitraan Kehutanan, dimana adanya kerjasama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang Izin Usaha Pemanfaatan hutan, jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan atau pemegang izin usaha industri primer hasil hutan.

Terakhir, kelima, melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), yaitu hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat.

Skema yang terakhir ini, berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.88/Menhut-II/2018 tentang Hutan Kemasyarakatan menyatakan bahwa Hutan Kemasyarakatan (HKm), yaitu hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat.

 

Kelompok Tani Sedyo Rukun.

Salah satu desa yang sudah menerapkan skema HKm yaitu Desa Dusun Ketangi, Desa Banyusoco. Di desa ini terdapat hutan negara dengan luas 1.341,1 ha, merupakan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola Pemerintah Provinsi Yogyakarta, yaitu KPH Yogyakarta.

Salah satu Kelompok Tani (KT) yang mendapatkan izin untuk mengelola hutan kemasyarakatan adalah KT Sedyo Rukun. KT ini dipimpin oleh Sudarmi, beranggotakan 48 orang, sebagian besar ibu-ibu.

Pada tahun 2007, masyarakat yang tinggal di sekitar Dusun Ketangi ikut berpartisipasi dalam pengelolaan hutan negara, dengan ijin yang diberikan selam 35 tahun. Luas lahan yang dikelola 17 Ha, pada petak 95 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Menggoro, Bagian Daerah Hutan (BDH) Paliyan.

Dalam praktik pengelolaan hutan, KTHKm Sedyo Rukun, selain melakukan penanaman hutan dengan jenis pohon jati (Tectona grandis) juga membuat persemaian untuk menghasilkan bibit.

Pemilihan kayu jati juga tentunya dengan pertimbangan keinginan masyarakat untuk memilih jenis ini. Selain kayu ini merupakan komersial bermutu tinggi yang banyak diminati masyarakat dengan pemasaran yang cukup mudah, tanaman jati juga cocok ditanam di daerah Banyusoco merupakan daerah kering dan tandus.

Di samping itu, pertimbangan dari sisi ekologis, tanaman jati memiliki daur yang panjang sehingga berfungsi dalam pengaturan tata air (hidrologi) dan iklim lokal.

Adapun penanaman tanaman dan pemeliharaannya dilakukan anggota kelompok. Mereka saling bahu membahu mengelola hutannya.

Selain tanaman jati sebagai tanaman utama, KT ini juga memanfaatkan lahan di bawah tegakan dengan tanaman palawija, jahe, garut, kunyit, temulawak, dan diolah menjadi makanan dan minuman antara lain kripik garut, minuman instant dari kunyut, jahe dan lain sebagainya.
Pemanfaatan lahan di bawah tegakan tersebut memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat melalui perolehan hasil dari tanaman jangka pendek meliputi tanaman semusim atau tanaman empon-empon, dan jangka panjang melalui tanaman jati.

Belajar dari Sedyo Rukun

Dari cerita sukses KTHKm Sedyo Rukun, kita belajar bagaimana masyarakat mau bergerak dan berpartisipasi dalam pembangunan kehutanan.

Mereka berinovasi untuk mengembangkan potensi yang ada dalam pengelolaan lahan dan sumber daya hutan sehingga dapat mewujudkan kelestarian hutan sebagai sistem penyangga kehidupan, dan memperkuat ekonomi rakyat.

Selain itu, dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian nasional .*

(Mayasih Wigati, dari berbagai sumber)


Banner
  • e-IKLH
  • PPID
  • Pengaduan Menteri LHK
  • APRS Yogyakarta
  • Asian Games Jakarta Palembang 2018
  • Pertikawan 2018
 
Hubungi Kami

ppejawa.com
Jl. Siliwangi (Ringroad Barat) No.100 Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Phone : 0274-625800
Email : humasp3ejawa@gmail.com

 
Jajak Pendapat

Apa yang anda cari?

 Artikel
 Lainnya
 Agenda

Hasil Poling »

 
Statistik Kunjungan
 
Video
 
Facebook
 
Copyright © 2015 P3E Jawa All Rights Reserved.